16 Oktober 2018

Andi Sudirman Pengalaman Kelola Proyek Bernilai Ratusan Triliun

Andi Sudirman Pengalaman Kelola Proyek Bernilai Ratusan Triliun

Pasangan Gubernur dan Wagub Sulsel Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Sulaiman

Jakarta Media Duta,- Pasangan Gubernur dan Wagub Sulsel Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Sulaiman resmi menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur 2018-2023 Rabu (5/9/2018). Nurdin dan Sudirman dilantik oleh Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara. Nurdin dan Sudirman didampingi istri masing-masing.
Istri Nurdin, Hj Liestiaty Fachruddin, dan istri Sudirman, Naoemi Octarina tampil anggun saat foto bersama dengan Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Jokowi dan Wapres RI Jusuf Kalla dan Mufidah JK.
Ketua PKK Sulsel Liestiaty Fachruddin tak asing bagi publik karena sepuluh tahun menjabat Ketua PKK Bantaeng, Sulsel. Namun bagi istri Wagub Naoemi Octarina, tentu masih asing.
Nurdin Abdullah sudah 3 kali ikut pilkada, dua kali pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Bantaeng, baru sekali pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan.Dia tak pernah kalah. Lalu, Andi Sudirman (34) baru kali ini  mengikuti pemilihan daerah. Kemunculan diarena kontestasi politik sempat mengejutkan sejumlah pihak. Sebelumnya dia tak banyak dikenal oleh publik lantaran memilih berkarier sebagai profesional, bukan politisi.
Andi Sudirman lahir di Bone, 25 September 1983, merupakan adik dari Menteri Pertanian Kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla periode 2014–2019. Dia termasuk calon kepala daerah dari generasi milenial. Sebelum merantau, iamenghabiskan masa remajanya di kampung halamannya, Bone.
Dia anak ke-11 dari 12 bersaudara. Almarhum ayahnya, Andi Sulaiman adalah Prajurit TNI AD sekaligus seorang petani. Sedang ibunya dalam keseharian menjadi ibu rumah tangga. Pasangan gubernur dan wakil gubernur terpilih Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (Prof Andalan) dilantik Presiden RI Joko Widodo, Rabu (5/8/2018). 
Andi Sudirman mengawali jenjang pendidikannya di SD Inpres 10 73 Mappesangka, Bone (1989–1995), SLTP Negeri 1 (Ujung Lamuru) Lappariaja, Bone, (1995–1998), dan SMU Negeri 1 Watampone (1998–2001). Sejak di SMP, jiwa kepemimpinannya sudah muncul melalui aktif mengikuti berbagai organisasi. Tahun 1994, ia Ketua Bina Damping Putra Pramuka SLTP Negeri 1 Lappariaja. Kemudian, Ia juga menjadi Ketua Terpilih Dewan Ambalan Putra Pramuka SMA Negeri 1 Watampone (2000).
Pada tahun yang sama, ia menjabat ketua OSIS SMA Negeri 1 Watampone. Masih di tahun 2000, ia juga menjabat Ketua MPK (semacam dewan legislatif pelajar) di SMA Negeri 1 Watampone. Masih pada tahun 2000, ia juga mendirikan Organisasi Rohani Islam (Rohis) di almamaternya (SMA Negeri 1 Watampone) dan organisasi Siswa Pecinta Alam (Respon–Sispala) di Watampone.
Pada tahun 2001, melanjutkan studinya Teknik Mesin pada Universitas Hasanuddin di Makassar, Sulawesi Selatan. Pada perguruan tinggi terbesar di Indonesia Timur dan berhasil lolos di Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Mesin. Pada tahun 2002, dia mendirikan organisasi pemuda dengan nama “Forum Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa (FPPM) Mappatunru” yang bermarkas di Kabupaten Bone dan organisasi ini cukup fenomenal.
Hanya kurang lebih setahun sejak berdirinya, organisasi ini mampu menghimpun lebih dari 200 anggota dari mahasiswa berbagai perguruan tinggi dan menjadi salah satu organisasi kepemudaan yang cukup diperhitungkan di Kabupaten Bone.
Pada semester enam (2004) di Fakultas Teknik Unhas, ia berhak atas beasiswa dari sebuah perusahaan ‘Thiess Indonesia, sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang penyedia jasa pertambangan yang terbesar di dunia lewat Australia Graduate Scholarship.
Andi merupakan satu dari 15 mahasiswa se-Indonesia termasuk perwakilan dari UI, ITB, ITS, UGM dan  Universitas-universitas besar lainnya. Lagi dia berhasil lulus di sana dengan beasiswa yang cukup mencengangkan bagi mahasiswa seusianya yakni Rp 10 juta ketika SPP per semester hanya sekitar Rp 360 ribu saat itu.
Dengan beasiswa sebesar itu kehidupannya mengalami lompatan dahsyat. Namun, realitas itu tak membuat cara hidup.Ia tetap seorang pak Andi Surdirman yang dulu. Yang menjalani hidup penuh dengan kesederhanaan.
Tidak ada yang berubah dari kehidupannya selain tanggung jawabnya yang sudah sedemikian besar. Persyaratan untuk tetap memperoleh beasiswa dari ‘Thiess Indonesia’ memang lumayan berat, yakni rerata minimal IPK 3,0 harus dipenuhinya dan tidak boleh mendapatkan nilai E setiap mata kuliah serta IPK tidak boleh turun dari semester lalu ke semester berikutnya.
Tuntutan kondisi seperti ini tidak menjadikan kedodoran dengan waktu. Kemampuannya untuk memanajemeni serta mengatur waktu antara aktifitas keorganisasian dan kuliah yang diperolehnya dari masa-masa bangku sekolah kini sangatlah berguna. Tidak mengherankan, hanya dalam waktu 3 tahun 8 bulan, ia mampu menyelesaikan masa kuliahnya. Dialah mahasiswa Teknik Mesin yang tercepat selesai di angkatannya waktu itu. Hal ini merupakan prestasi tersendiri, mengingat dalam kondisi normal.
Seorang mahasiswa harus bergelut selama lebih 4 tahun untuk mampu menyelesaikan jadwal kuliah di Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Dia juga berhasil masuk dalam nominasi Lomba PKMT yaitu "Perancangan Pembangkit Listrik Arus Laut” yang diselenggarakan oleh Dikti RI 2005. Karier PT Thiess Indonesia.
 Setelah menyelesaikan studinya pada Unhas, ia langsung merambah dunia profesional. Di perusahaan Multinasional ‘Thiess Indonesia’ dia memulai kariernya. Persentuhannya dengan tenaga kerja ahli dari barat banyak memberi pelajaran berharga bagi dirinya.
Di sini,  ia memiliki banyak kesempatan mengembangkan keahlian serta kecerdasan yang telah diasahnya sejak kecil hingga kuliah dulu. Karena kemampuan berpikir out of the box yang dimilikinya, kariernya semakin melejit. Kemampuannya membangun sistem dan mengimplementasikan dalam produk kerja, yang membawa dipercayakan dan terlibat dalam mengelola proyek investasi asing senilai ratusan triliun di seluruh wilayah kerja PT Thiess.
Dengan usia yang demikian muda namun kepercayaan dan tanggung jawab yang telah mampu diembannya di proyek gas salah satu perusahaan terbesar di dunia ini (ConocoPhillips Amerika Serikat-Hyundai Korea Selatan-Thiess Australia).
Pada Petrosea, dalam usia masih di bawah 27 tahun, Ia mengemban amanah day to day construction manager dengan metode berpikir yang selalu berbeda dan jitu. Sebagai contoh, ketika ia berhasil menunjukkan kemampuan berpikir out of the box dalam menyelesaikan proyek giant water tank painting/ finishing di konstruksi pabrik emas.
Normalnya penyelesaikan menggunakan perancah (scaffolding) kemudian mengganti dengan menggunakan crane plus man-basket & rigger sebagai hold back. Selanjutnya menguji metode ini dalam hitungan pump back pressure engineering during blasting, crane load, man-basket safety & stability sukses dan berhasil diaplikasikan.
Proyek painting yang semula estimasi painting pengerjaan 2 hingga 3 bulan bisa diselesaikan dalam kurung waktu kurang dari seminggu dan mampu menghemat biaya hinga lebih 50 persen estimasi. Metode ini termasuk metode baru saat itu dan melalui proses approval consultant Australia (CMS) sebelum eksekusi.
Di sinilah dia dipercayakan menduduki jabatan  strategis sebelum berlabuh di perusahaan Inggris PT Offshore Services Indonesia/ MES. PT Offshore Services Indonesia/MES, menjadi orang Indonesia pertama menjabat sebagai Deputy dan Project Manager proyek DP2 DSV saturation dan air diving berbendera Indonesia.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar